Oke kita lanjutkan cerita perjalanan Jepangnya yaa.. (disclaimer : karena pergi jalan-jalannya bulan Juli dan sekarang sudah hampir masuk bulan Desember, jadi saya cuma mengandalkan ingatan sisa-sisa aja ya untuk cerita jalan-jalan ke Jepang ini, hihihi, gomenasai mina-san..)
Hari pertama di Jepang, seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, kami pergunakan untuk mengenali lingkungan sekitar tempat tinggal (saya dan teman2 bilangnya 'kost-kostan' untuk si guest house ini, karena suasananya hommy banget sih kayak di kost (?))
Dan karena guest house nya deket banget sama area Shinsaibashi-Dotounbouri, maka kesanalah kaki kami melangkah. Shinsaibashi ini paling cuma 10 menit jalan kaki dari kost-kostan, atau kalau iseng mau lari gila yaaa 5 menit juga sampai sih, hehehe.
Ada apa di Shinsaibashi? Ada banyaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk toko. Yes, coba saja search di Youtube kalau tidak percaya. Saya sebelum berangkat ke Jepang ini juga mencari info serajin-rajinnya via Google dan Youtube. Percaya deh, walaupun udah rajin browsing dan catet ini itu, resiko untuk terkejut dan 'hilang arah' di daerah ini tetap besar, hahaha.
Menuju Shinsaibashi-Dotounburi yang menjadi tempat nongkrong warga Osaka, kami melewati toko-toko maupun hal-hal yang menarik perhatian, seperti misalnya, toko anjing di pojokan pinggir jalan dekat kostan yang menjual anjing-anjing imut nan lucu (kawaii!!), familymart (hari pertama cuma dilewatin, tapi nantinya ini jadi tempat favorit kami setelah berhari-hari tinggal di Osaka, LOL), vending machine yang jual segala minuman (actually, this is a very dangerous machine, stay away from this machine if you want to save your money. I mean it), dan ada satu toko di pojok jalan besar dekat lampu merah yang menjual SEGALANYA. Stocking, shampoo, kosmetik, sampai koyo gede buat dililitin di sekujur tubuh-biar kayak mummy- juga ada. Crazeeehh.
Jalan ke Shinsaibashi-Dotounburi dengan suasana gerimis sedikit menguntungkan bagi kami, jadi suasana adem walaupun di sana sedang musim panas. Area ini, bentuknya lorong-lorong. Hmm, bayangkan film Harry Potter, tempat dimana Harry membeli segala keperluan sekolahnya (saya lupa nama 'tempat'nya), lorong-lorong dengan jalan yang lebar, dan di kiri kanannya toko-toko menjual bermacam-macam barang, ditambah atap yang menutupi lorong-lorong tersebut, sehingga pejalan kaki tidak akan takut kpanasan/kehujanan bila melintasi lorong tersebut. Susah membayangkannya? Coba deh pergi ke Pasar Baroe, Jakarta, nah kurang lebih sama kayak gitu, cuma lorongnya lebih luas, jalannya lebih lebar, bersih, nyaman, banyak cabang, dan nggak ada preman. Lol.
Menginjakkan kaki di sini, di hari pertama, dengan kondisi sebagai backpacker minimalis, harus sering-sering istigfar, karena ... SEMUA ADA! SE-MU-A. Topi. Boots. Tas. Jam tangan. Uniqlo. Takoyaki. Ice Cream. Karaoke. Partner for karaoke. Clothes. Idol Shop. Theatre. Udon. God Almighty, cuma nasi padang aja yang nggak ada di sini kayaknya.
-to be continued-penulis ngantuk sekali-
Selasa, 27 November 2012
Sabtu, 28 Juli 2012
The Amazing Mr.Takamoto, Shinsaibashi, and Dotonbouri
Hahahaha.. I think I should write something about him x)). Dia ini udah email-emailan jauh sebelum saya dan Kyun pergi ke Jepang. Dari proses email-emailan itu saya bisa nyimpulin, he's really a nice and entushiastic person. Dan, kesimpulan saya nggak salah, Mr.Takamoto bener-bener baiiik.
Waktu dia jemput kami di station Namba, dia datang agak terlambat, minta maaf, kenalan, dan langsung mengajak kami ke guest house miliknya.
Sambil jalan cepat, babeh berperawakan kurus, berusia kurang lebih 60 tahun ini juga menjelaskan banyak hal, this and that, "Oh, do you see that building? Yeah, Shinsaibashi is behind that building!" "Ah, and that behind the Pachinko buliding there's a sushi store, all for 100 yen! You should try!" I just nod. Kehabisan nafas, cyinn. Mr.Takamoto jalannya cepet banget, saya sama kyun mesti setengah lari untuk mengimbangi jalannya beliau. Oh and yeah, ehem, don't forget that we still bring our heavy luggage too. Hahaha, he's very enthusiastic, was asking about a lot of things and explaining about a lot of things too.
Akhirnyaaa setelah sekitar 10 menit jalan cepat, kami tiba juga di guest house kami, Namba Guest House. Di sana sudah ada tiga teman kami yang lain, Ebhi, Nova, dan Wanda..yeay, we finally meet! :D
Di guest house ini si babeh ngetawain kita, karena membeli tiket 2 Days Kansai Through Pass. Dia bilang, itu artinya, dalam satu hari, saya harus keliling Kansai, dan sehari lagi dipakai untuk pergi ke Koyasan, biar nggak rugi. Sementara dia tahu, saya dan teman-teman juga ada rencana ke Tokyo. Hmmm, kekejar nggak ya? Jadi rada menyesal sih membeli tiket ini.
Harga guest house asik ini semalem 2500 yen/kepala (300.000 rupiah), harganya sama kayak hostel backpacker yang tipe dorm loh. Alhamdulillah banget ketemu guest house ini, buah dari rajinnya saya browsing nyari hostel yang murmer tapi nyaman, hihihihi.
Setelah diskusi sama Mr.Takamoto dan teman-teman yang lain tentang tempat-tempat wajib kunjung di Osaka dan sekitarnya, Mr.Takamoto mengajak kami ke Yasaka Shrine yang terletak persis di sebelah guest house kami. Rupa-rupanya di shrine ini sedang ada persiapan untuk perayaan keagamaan. Di musim panas, Jepang memang terkenal dengan acara festival /matsurinya. Ada sesi foto-foto juga di sini oleh Mr.Takamoto. Lol.
Kembali ke guest house, kami segera menyelesaikan pembayaran dengan Mr.Takamoto, dan bersiap-siap jalan kaki untuk mengitari daerah Namba yang terkenal itu. Dotonbouri-Shinsaibashi, here we coommeeee :DD.
Di sepanjang Dotonbouri-Shinsaibashi ini, Kyun nggak berhenti bersenandung Osaka Romanesque, lagu manis dari grup idol Jepang kesayangan kami berdua, Kanjani8. LOL.
Waktu dia jemput kami di station Namba, dia datang agak terlambat, minta maaf, kenalan, dan langsung mengajak kami ke guest house miliknya.
Sambil jalan cepat, babeh berperawakan kurus, berusia kurang lebih 60 tahun ini juga menjelaskan banyak hal, this and that, "Oh, do you see that building? Yeah, Shinsaibashi is behind that building!" "Ah, and that behind the Pachinko buliding there's a sushi store, all for 100 yen! You should try!" I just nod. Kehabisan nafas, cyinn. Mr.Takamoto jalannya cepet banget, saya sama kyun mesti setengah lari untuk mengimbangi jalannya beliau. Oh and yeah, ehem, don't forget that we still bring our heavy luggage too. Hahaha, he's very enthusiastic, was asking about a lot of things and explaining about a lot of things too.
Akhirnyaaa setelah sekitar 10 menit jalan cepat, kami tiba juga di guest house kami, Namba Guest House. Di sana sudah ada tiga teman kami yang lain, Ebhi, Nova, dan Wanda..yeay, we finally meet! :D
The Hall. In the right there are the three bedrooms.
In the left there are pantry and toilets.
The place is really nice, clean, and has everything you need. Around Namba area too. Highly recommended.
Di guest house ini si babeh ngetawain kita, karena membeli tiket 2 Days Kansai Through Pass. Dia bilang, itu artinya, dalam satu hari, saya harus keliling Kansai, dan sehari lagi dipakai untuk pergi ke Koyasan, biar nggak rugi. Sementara dia tahu, saya dan teman-teman juga ada rencana ke Tokyo. Hmmm, kekejar nggak ya? Jadi rada menyesal sih membeli tiket ini.
Harga guest house asik ini semalem 2500 yen/kepala (300.000 rupiah), harganya sama kayak hostel backpacker yang tipe dorm loh. Alhamdulillah banget ketemu guest house ini, buah dari rajinnya saya browsing nyari hostel yang murmer tapi nyaman, hihihihi.
Setelah diskusi sama Mr.Takamoto dan teman-teman yang lain tentang tempat-tempat wajib kunjung di Osaka dan sekitarnya, Mr.Takamoto mengajak kami ke Yasaka Shrine yang terletak persis di sebelah guest house kami. Rupa-rupanya di shrine ini sedang ada persiapan untuk perayaan keagamaan. Di musim panas, Jepang memang terkenal dengan acara festival /matsurinya. Ada sesi foto-foto juga di sini oleh Mr.Takamoto. Lol.
Kembali ke guest house, kami segera menyelesaikan pembayaran dengan Mr.Takamoto, dan bersiap-siap jalan kaki untuk mengitari daerah Namba yang terkenal itu. Dotonbouri-Shinsaibashi, here we coommeeee :DD.
Di sepanjang Dotonbouri-Shinsaibashi ini, Kyun nggak berhenti bersenandung Osaka Romanesque, lagu manis dari grup idol Jepang kesayangan kami berdua, Kanjani8. LOL.
...
Kyou mo dareka ga meguriau
Haruka haruka nishi no machi
Koi wo suru nara midousuji kara hajimaru no sa
Miyabinaru story
Ano hi no bokura wa mayotte ita
Iji toka hatte sa kizu tsuke atte
Kake dashita kimi no senaka ga kieta umeda eki
Kono machi no kotoba ranbou to itta ne
Demo boku wa kaenai yo
"Suki ya" to iu kara
Kimi wo sagashite dakishimeyou
Hayaku hayaku oikakete
Koi wo suru tame shinsaibashi ni wa hito ga kuru
Miyabinaru story
Haruka haruka nishi no machi
Koi wo suru nara midousuji kara hajimaru no sa
Miyabinaru story
Ano hi no bokura wa mayotte ita
Iji toka hatte sa kizu tsuke atte
Kake dashita kimi no senaka ga kieta umeda eki
Kono machi no kotoba ranbou to itta ne
Demo boku wa kaenai yo
"Suki ya" to iu kara
Kimi wo sagashite dakishimeyou
Hayaku hayaku oikakete
Koi wo suru tame shinsaibashi ni wa hito ga kuru
Miyabinaru story
Today people are destined to meet
In that far, far western city
If you're going to fall in love, then start at Midosuji
An elegant story
We were lost that day
We were stubborn and hurt each other
I watched you run off and disappear at Umeda Station
You said this town's speech is vulgar
But I won't change
I'll say, "I love ya"
I'll search for you and hold you
Faster, faster, running after you
People come to Shinsaibashi for love
An elegant story
In that far, far western city
If you're going to fall in love, then start at Midosuji
An elegant story
We were lost that day
We were stubborn and hurt each other
I watched you run off and disappear at Umeda Station
You said this town's speech is vulgar
But I won't change
I'll say, "I love ya"
I'll search for you and hold you
Faster, faster, running after you
People come to Shinsaibashi for love
An elegant story
...
Kebetulan, pada saat kami tiba di Dotonbouri, sedang ada festival di sungainya yang terkenal itu. Orang tua, anak muda, anak-anak mengayuh perahu mereka, dan menabuh gendang seolah akan berperang (?). Saya sendiri kurang tahu sebenarnya festival ini tentang apa.Tapi parade perahu mereka menarik untuk dilihat. Benar-benar malam penuh lampu dan perayaan.
"Sumimasen,watashi wa,err,jozu dewa,eh,nihonggo...er,arimasen!"
Yup!Itulah kalimat yang saya hapalin mati-matian sebelum pergi travelling ke Jepang, yang artinya kurang lebih, "Maaf, bahasa Jepang saya tidak baik." (Jangan bayangkan lafal saya sempurna waktu akhirnya ngomong ini ya, susunan kalimatnya aja salah begitu, pfffftttt, hehehe).
Bingung, Kok Semuanya Jelas, ya? xD
Dari awal menginjakkan kaki di bandara Kansai, Osaka, Jepang, saya sudah bisa merasakan saya akan baik-baik saja di negara ini. Kekhawatiran bakal jadi orang linglung setelah sampai di bandara Kansai langsung sirna begitu melihat kerapihan bandara ini, hihihi. Plang-plang petunjuknya jelas, dan selalu disertai dengan bahasa Inggris(ya iyalah, jeng!). Tapi, kalau masih merasa nggak jelas juga, kamu bisa tanya-tanya ke petugas bandara atau petugas di tourist information centre, kok. Semuanya akan menjawab pertanyaan kamu dengan ramah, dan rata-rata mereka juga bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi, jangan huawatiiiirrr nyasar ya ciiinnn, hihihi.
Bandara Kansai memiliki sky train, yaitu kereta yang menghubungkan penumpang yang baru turun dari pesawat dengan bagian utama bandara Kansai. Maka begitu turun dari pesawat, saya dan Kyunspark teman seperjalanan saya, langsung mengikuti kerumunan penumpang menuju sky train. Setelah melewati bagian imigrasi, mengambil bagasi, dan ke toilet (well the toilet is another whole different story, but yeah, I'll keep my mouth shut, so you guys can have some experience here, kekeke), kami pun segera menuju information centre, yang adanya di bagian luar gedung utama bandara Kansai. Di sini, kami bertanya mengenai lokasi nankai train, dan public phone, karena saya harus mengabari Mr.Takamoto, pemilik guest house tentang kedatangan kami. Saya nggak lama-lama di information centre, karena si mbaknya ngejelasin sambil duduk gitu kayak ogah-ogahan, heeeehmmm, satu-satunya orang Jepang yang saya temukan nggak Jepang banget ya cuma dia ini.
Ternyata, untuk menggunakan public phone kita harus punya uang koin 100 yen. Tenang aja, kalau kita nggak punya pecahan koin 100 yen, ada mesin penukar uang. Cara menukarkannya pun cukup mudah, yaitu dengan memasukkan lembaran uang 1000 yen kita ke tempat yang ditentukan, maka si mesin akan secara otomatis menelan uang kertas kita dan menggantikannya dengan mengeluarkan 10 uang koin 100 yen. Cring..cring..cring.
Mendengar suara gemerincing koin yang keluar dari mesin, si Kyun girang banget, dia malah ketagihan buat nuker uang 1000 yen nya ke 100 yen (~__~)". Oya, selain public phone, di tempat yang sama juga ada penyewaan internet gitu, jadi kalau nggak punya nomer telepon tempat yang ingin dituju, bisa juga kirim e-mail (atau cuma sekedar buat nulis status di jejaring sosial? xp). Menyenangkan yaaa?
Let's travel together!
Bingung, Kok Semuanya Jelas, ya? xD
Dari awal menginjakkan kaki di bandara Kansai, Osaka, Jepang, saya sudah bisa merasakan saya akan baik-baik saja di negara ini. Kekhawatiran bakal jadi orang linglung setelah sampai di bandara Kansai langsung sirna begitu melihat kerapihan bandara ini, hihihi. Plang-plang petunjuknya jelas, dan selalu disertai dengan bahasa Inggris(ya iyalah, jeng!). Tapi, kalau masih merasa nggak jelas juga, kamu bisa tanya-tanya ke petugas bandara atau petugas di tourist information centre, kok. Semuanya akan menjawab pertanyaan kamu dengan ramah, dan rata-rata mereka juga bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi, jangan huawatiiiirrr nyasar ya ciiinnn, hihihi.
Kansai International Airport
Ternyata, untuk menggunakan public phone kita harus punya uang koin 100 yen. Tenang aja, kalau kita nggak punya pecahan koin 100 yen, ada mesin penukar uang. Cara menukarkannya pun cukup mudah, yaitu dengan memasukkan lembaran uang 1000 yen kita ke tempat yang ditentukan, maka si mesin akan secara otomatis menelan uang kertas kita dan menggantikannya dengan mengeluarkan 10 uang koin 100 yen. Cring..cring..cring.
Mendengar suara gemerincing koin yang keluar dari mesin, si Kyun girang banget, dia malah ketagihan buat nuker uang 1000 yen nya ke 100 yen (~__~)". Oya, selain public phone, di tempat yang sama juga ada penyewaan internet gitu, jadi kalau nggak punya nomer telepon tempat yang ingin dituju, bisa juga kirim e-mail (atau cuma sekedar buat nulis status di jejaring sosial? xp). Menyenangkan yaaa?
diubah jadi
Si public phone ini adanya di sebelah kanan information centre, ada tanda orange gitu di depannya.
Moshi-moshi!
Setelah menelepon Mr.Takamoto untuk mengabarkan kedatangan kami, kami pun segera menuju tourist information centre yang ada di sebelah kiri information centre. Di tourist information centre ini kami meminta peta berbahasa Inggris, tanya ini itu, dan beli tiket 2 days Kansai Through Pass.
Tadaa!!
Catatan penting nih, tiket ini hanya wajib dibeli kalau kamu memang PASTI akan keliling semua daerah Kansai yaaaa (Osaka, Nara, Kyoto, Kobe, Koyasan), karena kalau nggak yakin, mending nggak usah beli, rugi bandaarr cyiinnn, kayak saya, ihik.
Tiket 2 days Kansai Through Pass ini harganya lumayan muahahahahal, 3800 yen (dengan kurs rupiah +/-120 yen saat itu,
jadi harganya sekitar 456.000 rupiah). Bisa dipakai untuk dua hari tidak berurutan alias kapan saja. Tapi kalau kamu memutuskan untuk memakai di satu hari, lebih baik satu hari itu benar-benar dimanfaatkan untuk keliling Kansai (misal, rute Osaka-Nara-Kyoto-Osaka) atau pergi ke Koyasan (oooh, you HAVE to go there, very beautiful and awesome, worth every penny, hihihi).
Nah, setelah semua urusan di lantai bawah kelar, kami naik ke lantai 2 dengan menggunakan eskalator menuju tempat pembelian tiket nankai train. Oya, di Jepang ada kebiasaan baik nih, selama naik eskalator usahakan berdiri berurutan di line yang sama ya, jangan berjejer, karena line yang lain biasa dipakai oleh pengguna yang terburu-buru, supaya dia bisa menyusul kita. Tertib nan lancar. Suka deh.
Kami membeli tiket nankai train dengan kondisi non-reserved seat,
seharga 890 yen sekali jalan (106.800 rupiah). Kami memang sengaja cari yang
paling murah harganya diantara armada-armada angkutan yang ada. Hihihi. Alhamdulillah, walaupun non-reserved seat, tapi tetap dapat duduk.

Penampakan si nankai train (nankai electric railway), kereta yang akan membawa kami ke Namba Station (pemberhentian terakhir) dari Kansai International Airport. Mirip kereta comm-line ekonomi-AC JaBoDeTaBek, ya, hihihi.
Orang Jepang Ramah Ramah, Sumpah!
Kalimat Jepang pertama yang saya ucapkan seperti judul diatas terjadi waktu saya dan Kyun sedang berada di nankai train. Jadi ceritanya, waktu kereta sudah mulai padat, Kyun yang duduk tepat di depan seorang ibu paruh baya memberikan gesture mempersilakan ibu itu untuk duduk. Tapi si ibu menolak sambil tersenyum. Pikir saya waktu itu, "Wah, rumor yang bilang, orang-orang tua di sini nggak suka dikasihani mungkin saja betul ya?" Si ibu tetap memilih berdiri.
Tidak berapa lama, bangku di samping saya kosong, dan si ibu pun duduk. Mungkin melihat bawaan kami yang traveller banget, si ibu tergelitik nanya, pake bahasa Jepang, "...lalala..ka?" Sumpah saya nggak ngerti. Kyun yang bisa sedikit-sedikit bahasa Jepang juga nggak paham, karena katanya suaranya si ibu halus banget, nggak kedengeran.
Sambil tersenyum manis saya jawab seadanya, "We're from Indonesian."
"Ahh.. vacasion?" Katanya lagi dengan logat Jepang yang kental.
"Yes, vacation, summer vacation."
Terus saya sok tahu deh ngomong, ""Sumimasen,watashi wa,err,jozu dewa,eh,nihonggo...er,arimasen!" (artinya, ya, kurang lebih : maaf bahasa Jepang saya tidak baik.").
Si ibu ketawa, sambil bilang, "Daijobu desu!"
Artinya kurang lebih, "Nggak apa-apa, kok!" Hihihihi.
"Where?" Tanyanya lagi sambil nunjuk rute yang terpampang didekat pintu kelur kereta.
"Oh, Namba. Namba Station."
Kami pun berdialog. Ala kadarnya. Campur. Inggris, Jepang, Sunda, Indonesia, tangan, semua keluar. Pokoknya asal sama-sama mengerti. Sampai akhirnya beliau harus turun, ee, dia ngeluarin dua permen dari tasnya, terus dikasih ke saya dan Kyun....:') (terharu sangat). Nggak henti-hentinya kita berdua bilang thank you sama arigatooo ke si ibu. Padahal cuma permen ya, tapi beneran deh, terharu banget sama keramahannya mereka.
Kyun's sweet candy :))
Langganan:
Komentar (Atom)







